Hadits Tentang Kebersihan
Agama Islam menaruh perhatian
amat tinggi pada kebersihan, baik lahiriah fisik maupun batiniyah psikis.
Kebersihan lahiriyah itu tidak dapat dipisahkan dengan kebersihan batiniyah.
Oleh karena itu, ketika seorang Muslim melaksanakan ibadah tertentu harus membersihkan
terlebih dahulu aspek lahiriyahnya. Ajaran Islam yang memiliki aspek akidah,
ibadah, muamalah, dan akhlak ada kaitan dengan seluruh kebersihan ini. Hal ini
terdapat dalam tata cara ibadah secara keseluruhan. Orang yang mau shalat
misalnya, diwajibkan bersih fisik dan psikhisnya. Secara fisik badan, pakaian,
dan tempat salat harus bersih, bahkan suci. Secara psikhis atau akidah harus
suci juga dari perbuatan syirik. Manusia harus suci dari fahsya dan munkarat.
1. Dari
Jabir bin ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
“Setiap
penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka
dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)
2. Dari Abu Hurairah
radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah
Allah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya.” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
3. Dari Usamah bin
Syarik radhiallahu‘anhu, bahwa beliau berkata:
Aku pernah berada di samping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu
datanglah serombongan Arab dusun. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah
kami berobat?” Beliau menjawab: “Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan
meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya: “Penyakit apa
itu?” Beliau menjawab: “Penyakit tua.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adabul
Mufrad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi, beliau berkata bahwa hadits ini
hasan shahih. Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i menshahihkan hadits ini dalam
kitabnya Al-Jami’ Ash-Shahih mimma Laisa fish Shahihain, 4/486)
4. Dari Ibnu Mas’ud
radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menurunkan sebuah penyakit
melainkan menurunkan pula obatnya. Obat itu diketahui oleh orang yang bisa
mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak bisa mengetahuinya.”
(HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, beliau menshahihkannya dan disepakati
oleh Adz-Dzahabi. Al-Bushiri menshahihkan hadits ini dalam Zawa`id-nya. Lihat
takhrij Al-Arnauth atas Zadul Ma’ad, 4/12-13)
5. Penegasan
Rasulullahu’alaihi wa sallam dalam sabdanya:
“Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya, demikian pula Allah menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian dan janganlah berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Dawud dari Abud Darda` radhiallahu ‘anhu)
“Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari obat yang buruk (haram).” (HR. Abu
Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam
Shahih Ibnu Majah, 2/255) [Lihat kitab Ahkam Ar-Ruqa wa At-Tama`im karya Dr.
Fahd As-Suhaimi, hal. 21)
7. Dari ‘Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu
berkata:
“Dahulu
kami meruqyah di masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya: ‘Wahai Rasulullah,
bagaimana pendapatmu tentang hal itu?’ Beliau menjawab: ‘Tunjukkan kepadaku
ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah-ruqyah itu tidak mengapa selama tidak mengandung
syirik’.” (HR. Muslim no. 2200)
8. Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir
radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa di antara kalian yang mampu memberi kemanfaatan bagi saudaranya
maka hendaknya dia lakukan.”
9. Hadist diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu
‘anha. Beliau berkata;
“Dahulu
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Mu’awwidzaat dan meniupkannya
dengan sedikit meludah atas diri beliau di masa sakit beliau yang membawa
kepada kematiannya. Tatkala beliau merasa semakin parah, aku yang membacakan
Al-Mu’awwidzaat dan meniupkannya atas beliau. Aku usapkan bacaan itu dan tiupan
(ludah)nya dengan tangan beliau sendiri. Hal ini karena keberkahan tangan
beliau.” (HR. Al-Bukhari)
10. Abu Sa’id Al-Khudri
radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Jibril ‘alaihissalam pernah mendatangi
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jibril bertanya: “Wahai Muhammad, apakah
engkau mengeluhkan rasa sakit?” Nabi menjawab: “Iya.” Maka Jibril membacakan:
“Dengan
nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu dan keburukan
setiap jiwa atau sorotan mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu, dengan
nama Allah aku meruqyahmu.” (HR. Muslim)
11. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,
beliau berkata: “Dahulu bila salah seorang dari kami mengeluhkan rasa sakit
maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusapnya dengan tangan kanan
beliau dan membaca:
“Ya
Allah, Rabb sekalian manusia, yang menghilangkan segala petaka, sembuhkanlah,
Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tak ada yang bisa menyembuhkan kecuali Engkau,
sebuah kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Al-Bukhari).
12. Dari ‘Aisyah
radhiallahu ‘anha, bahwa beliau berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam meruqyah dengan membaca:
“Hapuslah
petakanya, wahai Rabb sekalian manusia. Di tangan-Mu seluruh penyembuhan, tak
ada yang menyingkap untuknya kecuali Engkau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
13. Dari Abu Al-‘Ash
Ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau mengeluhkan sakit yang dirasakannya
di tubuhnya semenjak masuk Islam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya;
“Letakkanlah tanganmu pada tempat yang sakit dari tubuhmu dan ucapkanlah,
‘Bismillah (Dengan nama Allah)’ sebanyak tiga kali. Lalu ucapkanlah:
‘Aku berlindung
kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan sesuatu yang kurasakan dan
kuhindarkan,’ sebanyak tujuh kali.” (HR. Muslim)
14. Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas
radhiallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau
bersabda:
“Barangsiapa mengunjungi orang sakit selama belum datang ajalnya, lalu dia
bacakan di sisinya sebanyak tujuh kali:
“Aku
memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Pemilik ‘Arsy yang besar, semoga
menyembuhkanmu,’ niscaya Allah akan menyembuhkannya dari penyakit itu.” (HR.
Abu Dawud, At-Turmudzi, dan dihasankan oleh Al-Hafizh dalam Takhrij Al-Adzkar)
15. Dari Sa’d bin Abi Waqqash
radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengunjungiku (ketika aku sakit) dan beliau membaca:
“Ya Allah, sembuhkanlah Sa’d Ya Allah, sembuhkanlah Sa’d. Ya Allah,
sembuhkanlah Sa’d.”(HR. Muslim)
16. Hadits Abdullah bin
Mas‘ud radhiallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
“Tidaklah seorang muslim ditimpa
gangguan berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan
kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR.
Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 6511)
17.
عَنْ
سَعْدِبْنِ اَبِى وَقَّاصٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
اِنَّ اللهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ كَرِيْمٌ يُحِبُّ
الْكَرَمَ جَوَادٌيُحِبُّ الْجَوَادَفَنَظِّفُوْااَفْنَيْتَكُمْ
”An
sa’dibni abi waqqasin ’an abihi ’aninnabiyyi sallallahu ’alaihi wasallama
innallaha tayyibun yuhibbuttayyiba nadifun yuhibbunnadifa karimun
yuhibbulkarama jawadun yuhibbuljawada fanaddifu afnaitakum”. (HR. At-
Turmudi)
Artinya : ”Sesungguhnya
Allah Ta’ala itu baik (dan) menyukai kebaikan, bersih (dan) menyukai
kebersihan, mulia (dan) menyukai kemuliaan, bagus (dan) menyukai kebagusan.
Oleh sebab itu, bersihkanlah lingkunganmu”. (HR. At- Turmudzi)
18. اَلاِسْلاَمُ نَظِيْفٌ فَتَنَظَّفُوْافَاِنَّهُ لاَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ اِلاَّ نَظِيْفٌ
”Al-
islamu nadifun fatanaddafu fainnahu la yadkhululjannata illa nadifun”. (HR.
Baihaqiy)
Artinya : ”Agama
Islam itu adalah agama yang bersih atau suci, maka hendaklah kamu menjaga
kebersihan. Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang suci”.
(HR. Baihaqiy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar